Matahari,
matahari itu tak menampakkan senyumannya pada Ghisa yang pingsan dibawah tanah
longsor dan batu yang besar, Ghisa sangatlah beruntung, Sebongkah batu yang
sangat besar menutupinya hingga tanah tak menguburnya, hanya menutupi bagian
yang tak ada batunya. Ghisa membuka matanya.
“Sepi,
Gelap”
“Bundaaaaaaa
Ghisa dimana ? mengapa Ghisa tak dibangunkan lagi? Tak ada yang menjawab.”
Lirih Ghisa, meskipun ia merasa telah berteriak namun kenyataannya hanya
lirihan yang keluar dari mulutnya.
“Aaaw” saat ghisa berusaha
mengangkat tangannya yang tak bisa bergerak.
“astaghfirullah, astaghfirullah ini
dimana? Ini bukan dirumah, Astaghfirullah, astaghfirullahal ‘adziim, Ya Allah,
Ghisa dimana? Ya Allah ini dimana? Ya Allah aku tahu sekarang Ghisa sendirian,
Ghisa takut Ya Allah, Ghisa takut, tapi Ghisa tahu Ya Allah hanya Engkaulah sebaik
– baik pelindung. Astaghfirullah, Ghisa lupa bilang sama bunda dan ayah Ghisa,
Ghisa lupa minta izin, Ya Allah inilah hukumannya?”
